PERKEMBANGAN dan pertumbuhan seni batik tulis di Indonesia, dewasa ini, ditandai dengan munculnya sejumlah seniman/kreator batik kontemporer. Dalam hal mengkreasi karya-karya, mereka tak lagi berpatok pada gambar, pola, dan motif yang sudah ada.Pada umumnya, gambar, pola, dan motif batik tulis tradisional yang dikreasi oleh para kreatornya itu terkonsep dalam susunan seni mozaik yang indah. Ada pilihan warna tertentu, sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing di mana batik itu diproduksi, baik secara khusus maupun massal. Gambar, pola, dan motif yang dikembangkan oleh para kreator batik tulis tradisional, biasanya mengacu kepada flora dan fauna. Meskipun demikian, ada juga yang mengembangkan berbagai gambar, pola, dan motif awan seperti pada batik cirebonan dengan mega mendungnya. Semua itu digarap dengan sungguh-sungguh dengan asumsi, enak dipandang enak disandang.
Pembuatan batik di Indonesia--sebagaimana diungkapkan Dr. Biranul Anas dalam sebuah esainya berjudul, "Batik Dalam Tataran Modernitas," (Para Rupa, Art Journal, 02 Agustus-September 2008)-- menunjukkan spektrum ungkapan rupa yang amat beraneka ragam. Sebagai kain yang sejak dahulu menjadi salah satu ungkapan budaya yang terpenting dalam kehidupan masyarakat Jawa, terutama dalam konteks adati (busana serta perangkat pendukung upacara.), batik dewasa ini telah merasuk ke dalam berbagai sektor kebutuhan tekstil lainnya.
Oleh karena itu, tak aneh bila kemudian bermunculan kreator batik kotemporer. Dalam berkarya, mereka penuh gairah menciptakan gambar, motif, dan pola dengan warna yang sama sekali berbeda dengan batik tradisional. Walaupun demikian, pelahiran bentuk gambar, pola, dan motif dalam seni batik, dalam segi perupaannya, termasuk ke dalam seni rupa dwimatra. Bentuk-bentuknya terbina dari unsur-unsur garis, titik, dan bidang.
Unsur-unsur tadi, dalam sudut tertentu, bisa menjadi simbol yang bermuatan nilai-nilai filosofis, berkaitan erat dengan kehidupan manusia di muka bumi. Dengan kata lain, nilai-nilai kosmologi itu selalu hadir dan mengalir di dalamnya. Untuk itu, seni batik, baik yang tradisional maupun yang kontemporer, senantiasa hadir dalam kehidupan manusia. Apalagi, fungsinya bukan hanya untuk busana (fashion) semata-mata, melainkan juga bisa juga digunakan sebagai penghias ruangan dalam pengertian seluas-luasnya.
Pesatnya perkembangan batik kontemporer di Indonesia menandakan bahwa para pebatik di negeri ini masih hidup, penuh gairah, dan tidak ingin mati di tempat. Sekontemporer-kontemporernya batik Indonesia, pada titik-titik tertentu, masih mengolah titik, garis, dan ruang dengan pertimbangan-pertimbangan estetika tertentu, yang selama ini dianut oleh para kreatornya.
Berkaitan dengan itu, tak salah kalau Dr. Faruk, dalam sebuah esainya di majalah yang sama mengatakan, fenomena seni rupa muktahir menunjukkan hilangnya batas-batas antara seni rupa murni dari seni rupa terapan dan seni rupa yang reproduktif. Tak sebatas itu, batas-batas antara seni rupa dan seni bukan rupa --entah verbal, musikal-- bahkan seni rabaan dan sentuhan pun menjadi hilang.
Seni rupa kemudian masuk ke dalam apa yang dikenal sebagai seni multimedia. Lebih jauh, ia tak dapat lagi memisahkan diri dari apa yang dianggap bukan seni, segala objek yang remeh-temeh yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari bisa jadi karya seni.
DALAM konteks semacam itulah batik tulis kontemporer hadir. Apa sebab? Bila dilihat dari objek rupanya, kita akan melihat hilangnya batas antara seni rupa murni dan seni rupa terapan. Satu gambar, pola, dan motif batik tulis kontemporer yang tidak dibuat massal, pada sisi tertentu, sama dengan sebuah lukisan, apa pun objeknya.
Salah seorang seniman batik kontemporer dari Kota Bandung yang kini tengah diperbincangkan banyak orang adalah Dr. Tetet Cahyati, Sp.D., M.M. Ia adalah salah seorang anak almarhum pelukis Popo Iskandar. Dalam dunia seni di Bandung, Tetet bukanlah sosok asing.
Sebagai perupa, Tetet dikenal sebagai pelukis abstrak. Di dalam karya, dia senantiasa mengeksplorasi warna, bidang lukisan dengan barik-barik yang tegas, dan sapuan kuas yang penuh gejolak. Ia pun biasa mengubah bentuk natural (alami) ke bentuk-bentuk deformatif dengan teknik distorsi atau stilisasi.
Biranul Anas mengakui, karya-karya batik tulis kontemporer Tetet Cahyati begitu mengejutkan. Salah satunya karena Tetet sudah terbiasa dengan seni rupa, dalam hal ini seni lukis.
Pengamat seni rupa Herry Dim, di dalam esai berjudul "Dari Abstrak Analitik ke Emosi", mengatakah bahwa jika memperhatikan (judul) lukisan-lukisan karya Tetet, akan kita jumpai dua kecenderungan. Pertama, judul-judul yang berorientasi kepada objek-objek keseharian, semisal "Setangkai Bunga Patah", "Bulan Kemarau", dan "Senja di Kota Tua".
Kedua, judul-judul yang cenderung beranjak dari semacam suasana hati, seperti "Di Sudut Lorong Hati", "Cahaya Jiwa", "Rinduku", dan "Persatuan Adalah Kekuatan".
Kedua kecenderungan itu, kata Herry, rupanya menunjukkan acuan (titik berangkat) manakala Tetet melukis. Namun, baik terhadap objek keseharian dan--apalagi-- yang beranjak dari suasana hati: Tetet C. Iskandar tidaklah melukiskan dengan penggambaran seperti apa adanya. Bunga, misalnya, tidak lagi tampak dalam bentuk konkret kesehariannya. Bulan hanya terlacak sebagai lingkaran yang bisa macam-macam warnanya, dan "kota tua" mewujud jadi susunan warna. Kecenderungan seperti yang dilakukan Tetet C. Popo Iskandar, secara teoretis biasanya dikelompokan kepada genre seni lukis abstrak.
Nah, dengan teknik semacam ini, Tetet ingin menampilkan esensi dari setiap renungannya tentang kehidupan, yang tidak boleh menyerah dan kalah dalam berbagai medan kehidupan dalam menghadapi berbagai masalah sepelik apa pun. Berkaitan dengan itu, Tetet menegaskan bahwa nilai seni, apa pun karya seni yang dikreasi oleh para senimannya terletak pada daya kreasinya yang mengagumkan, baik secara estetik maupun filosofis. Batik kontemporer yang dikreasinya ini benar-benar membebaskan diri dari berbagai ragam budaya seni batik yang telah ada, dengan kata lain ungkapan-ungkapan yang dicitrakan Tetet dalam batik tulisnya ini adalah ungkapan-ungkapan manusia kini, yang berpihak pada dinamika zamannya.
Di Bandung, pada kenyataannya, geliat batik kontemporer, sebagaimana dikatakan Prof. Setiawan Sabana, tidak hanya dikerjakan oleh Tetet Cahyati. Lainnya, ada pebatik Prie Ernalia, Komar, dan pebatik Hasanudin (almarhum) yang mengembangkan gaya pekalongan, yang kini diteruskan oleh anaknya. (Soni Farid Maulana/"PR")***




0 comments on "Menuju Dunia "Fashion""
Post a Comment