Wednesday, March 18, 2009

SERIBU PESONA RAWA LEBAK TUNGKARAN

0 comments

Hm… pas hari jum'at tgl 6 maret 09 tepatnya hbs kul ekwan dosen (beliau dosen mta kul ekwan sklian PLLB) ngasih tau klo mta kul PLLB ad tgs Final projeck PLLB, kmi dkasih titik koordinat S : 3° 37' 22.8" dan E : 114° 42' 09.2" dan di deskripsikan daerah tersebut, kmudian dmsukin blog utk dipublikasikan….

Pertama chen nyari d google earth…

Trus…

Pada hari Senin 9 maret 09, chen ma tmn2 ade2 08 prgi k daerah itu utk survey…

Ternyata daerah tersebut 2 km dari Martapura bernama Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar. Di daerah rawa Tungkaran ini banyak sekali eceng gondok bak lautan sebagai tumbuhan yang mendominasi dan memberikan ciri pada daerah itu bahwa daerah tersebut adalah rawa lebak. Selain eceng gondok ada tumbuhan lain seperti purun, bundung, kiambang, kiapu, keladi, sebagian kecil ada kelakai pada daerah tertentu dan tumbuhan herba aquatik rawa lainnya. Untuk jenis fauna yang ada di rawa Tungkaran ada ikan haruan, papuyu, kapar, sepat, belut,lele karena ikan-ikan tersebut tahan hidup di tempat yang ekstrim dan juga terdapat ular.

Daerah rawa Tungkaran ini merupakan daerah rawa, yaitu rawa lebak. Kata lebak diambil dari kosakata Bahasa Jawa yang berarti lembah atau tanah rendah (Poerwadarminto, 1976). Rawa lebak adalah wilayah daratan yang mempunyai genangan hampir sepanjang tahun, minimal selama tiga bulan dengan tinggi genangan minimal 50 cm. Rawa lebak yang dimanfaatkan atau dibudidayakan untuk pengembangan pertanian, termasuk perikanan dan peternakan disebut lahan rawa lebak. Rawa lebak yang sepanjang tahun tergenang atau dibiarkan alamiah disebut rawa monoton, sedangkan jika kedudukannya menjorok masuk jauh dari muara laut/sungai besar disebut rawa pedalaman.

Rawa lebak secara khusus diartikan sebagai kawasan rawa dengan bentuk wilayah berupa cekungan dan merupakan wilayah yang dibatasi oleh satu atau dua tanggul sungai (levee) atau antara dataran tinggi dengan tanggul sungai. Bentang lahan rawa lebak menyerupai mangkok yang bagian tengahnya paling dalam dengan genangan paling tinggi. Semakin ke arah tepi sungai atau tanggul semakin rendah genangannya. Pada musim hujan genangan air dapat mencapai tinggi antara 4-7 meter, tetapi pada musim kemarau lahan dalam keadaan kering, kecuali dasar atau wilayah paling bawah. Pada musim kemarau muka air tanah di lahan rawa lebak dangkal dapat mencapai > 1 meter sehingga lebih menyerupai lahan kering (upland). Lahan rawa lebak dipengaruhi oleh iklim tropika basah dengan curah hujan antara 2.000-3.000 mm per tahun dengan 6-7 bulan basah (bulan basah = bulan yang mempunyai curah hujan bulanan > 200 mm) atau antara 3-4 bulan kering (bulan kering = bulan yang mempunyai curah hujan bulanan.

Berdasarkan ketinggian tempat rawa lebak dapat dibagi menjadi dua tipologi, yaitu (1) rawa lebak dataran tinggi dan (2) rawa lebak dataran rendah. Rawa lebak dataran tinggi/pegunungan banyak ditemukan di Sumatra dan Jawa, sedangkan rawa lebak dataran rendah (lowland) sebagian besar tersebar di Kalimantan.

Berdasarkan ketinggian dan lamanya genangan, lahan rawa lebak dapat dibagi dalam tiga tipologi, yaitu (1) Lebak dangkal, (2) Lebak tengahan, dan (3) Lebak dalam. Batasan dan klasifikasi lahan rawa lebak menurut tinggi dan lamanya genangan adalah sebagai berikut (Anwarhan, 1989; Widjaja Adhi, 1989):

Lebak dangkal : wilayah yang mempunyai tinggi genangan 25-50 cm dengan lama genangan minimal 3 bulan dalam setahun. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi nisbi lebih tinggi dan merupakan wilayah paling dekat dengan tanggul.

Lebak tengahan : wilayah yang mempunyai tinggi genangan 50-100 cm dengan lama genangan minimal 3-6 bulan dalam setahun. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi lebih rendah daripada lebak dangkal dan merupakan wilayah antara lebak dangkal dengan lebak dalam.

Lebak dalam : wilayah yang mempunyai tinggi genangan > 100 cm dengan lama genangan minimal > 6 bulan dalam setahun. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi paling rendah. Berdasarkan ada atau tidaknya pengaruh sungai, rawa lebak dibagi dalam tiga tipologi, yaitu (1) lebak sungai, (2) lebak terkurung, dan (3) lebak setengah terkurung. Batasan dan klasifikasi lebak menurut ada atau tidaknya pengaruh sungai adalah sebagai berikut (Kosman dan Jumberi, 1996):
Lebak sungai : lebak yang sangat nyata mendapat pengaruh dari sungai sehingga tinggi rendahnya genangan sangat ditentukan oleh muka air sungai.
Lebak terkurung : lebak yang tinggi rendahnya genangan ditentukan oleh bear kecilnya curah hujan dan rembesan air (seepage) dari sekitarnya.
Lebak setengah : lebak yang tinggi rendahnya genangan ditentukan
terkurung oleh besar kecilnya hujan, rembesan, dan juga sungai di sekitarnya.

Kiambang

Kiambang (dari ki: pohon, tumbuhan, dan ambang: mengapung) merupakan nama umum bagi paku air dari genus
Salvinia. Tumbuhan ini biasa ditemukan mengapung di air menggenang, seperti kolam, sawah dan danau, atau di sungai yang mengalir tenang.

Kiambang memiliki dua tipe daun yang sangat berbeda. Daun yang tumbuh di permukaan air berbentuk cuping agak melingkar, berklorofil sehingga berwarna hijau, dan permukaannya ditutupi rambut berwarna putih agak transparan. Rambut-rambut ini mencegah daun menjadi basah dan juga membantu kiambang mengapung. Daun tipe kedua tumbuh di dalam air berbentuk sangat mirip akar, tidak berklorofil dan berfungsi menangkap hara dari air seperti akar. Orang awam menganggap ini adalah akar kiambang. Kiambang sendiri akarnya (dalam pengertian anatomi) tereduksi. Kiambang tidak menghasilkan bunga karena masuk golongan paku-pakuan. Sebagaimana paku air (misalnya semanggi air dan azolla) lainnya, kiambang juga bersifat heterospor, memiliki dua tipe spora: makrospora yang akan tumbuh menjadi protalus betina dan mikrospora yang akan tumbuh menjadi protalus jantan. Paku air ini tidak memiliki nilai ekonomi tinggi, kecuali sebagai sumber humus (karena tumbuhnya pesat dan orang mengumpulkannya untuk dijadikan pupuk), kadang-kadang dipakai sebagai bagian dari dekorasi dalam ruang, atau sebagai tanaman hias di kolam atau akuarium. Karena dapat tumbuh sangat rapat hingga menutupi permukaan sungai atau danau, muncul pepatah
Melayu "biduk berlalu, kiambang bertaut", yang berarti setelah gangguan berlalu, keadaan akan kembali seperti semula.

Eceng gondok

Eceng gondok atau enceng gondok (Latin:Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 - 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau. Akarnya merupakan akar serabut. Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat mentolerir perubahan yang ektrim dari ketinggian air, laju air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur dan racun-racun dalam air.

Kiapu
Klasifikasi

Kingdom : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)

Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisio : Magnoliophyta (berbunga)

Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub-kelas : Arecidae

Ordo : Arales

Familia : Araceae (suku talas-talasan)

Genus : Pistia

Spesies : Pistia stratiotes L.

Rawa di daerah Tungkaran ini sebagian besar sudah di alih fungsi oleh masyarakat sekitar untuk daerah persawahan dan budidaya tambak ikan. Daerah itu apabila mengalami pasang maka airnya meluap dan mengakibatkan banjir, mungkin disebabkan alih funsi lahan sehingga tanah rawa lebak tersebut tidak mampu menyerap air dalam jumlah yang besar. Banyak warga di sekitar rawa tersebut tidak dapat memelihara daerah ini dengan membuang samapah di rawa tersebut.


Selengkapnya...

Tuesday, March 10, 2009

Kesan Perjalanan Di Loksado

0 comments

Perjalanan mendaki gunung merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan secara rutinitas setiap tahunnya bagi kami mahasiswa biologi sebagai syarat dalam mata kuliah ekologi. Belum pernah saya alami selama ini, praktikum lapangan dengan tujuan pendakian gunung meratus. Pada semester 4, saat itu saya mengambil mata kuliah ekologi sekaligus praktikan, ini perjalanan dan pengalaman pertama saya. Trus pada tanggal 13 November 2008 kami berangkat ke Tanuhi, ini merupakan perjalanan kedua bagi saya, tapi kali ini saya tidak menjadi praktikan melainkan sebagai asisten yang tentunya mengemban tugas yang cukup berat.
Awalnya saya mengira ini akan menjadi praktikum lapangan yang berat, apalagi kami akan berkemah di atas gunung meratus yang cukup tinggi. Namun ternyata setelah dijalani, saya merasa bahwa saya mendapatkan banyak ‘hal’ baru dalam perjalanan ini. Ada banyak pengetahuan yang saya dapatkan.
Ketika saya melihat bagaimana panorama alam yang ada di sana, maka saya terkejut……saya tidak pernah menyangka ada berbagai keindahan yang mampu ditemui. Tentang jernihnya air sungai, kokohnya gunung yang menjulang dan terutama saat saya melihat bagaimana indahnya ketika cahaya sang surya menyapa pagi kami lewat celah-celah dedaunan.


Sungguh, saya merasa bahagia sekali pernah menjadi bagian dari perjalanan ini. Walaupun mungkin saya merasa berat ketika kami harus berjalan jauh untuk menuju gunung, terjal dan curamnya gunung yang kami daki. Tapi sepertinya semua itu tidak ada artinya jika saya memandang perjalanan ini secara keseluruhan.
Sebetulnya tidak hanya keindahan alam yang bisa saya nikmati di sana, ada hal lain yang lebih bermakna dari sekadar memandang alam, yaitu saya semakin sadar bahwa saya hanya sebuah bagian kecil dari alam. Ya, alam menyimpan berbagai keanekaragaman yang sungguh menakjubkan. Berbagai spesies flora dan fauna yang saya temui di sana telah mengungkapkan hal ini. Sungguh saya merasa kecil ketika saya menyadari hal ini. Betapa kesombongan yang ada terasa luluh ketika tahu bahwa saya hanyalah titik kecil dari dunia yang luas, saya adalah hal kecil dari sekian banyak ciptaan yang telah dihidupkan ke dunia. Dan semua yang Tuhan ciptakan itu tidak ada satu pun yang diciptakan-Nya tanpa membawa manfaat bagi penghuni bumi lainnya.
Satu hal lagi yang saya petik dari perjalanan ini, bahwa sekarang saya jadi merasa lebih mengenal teman-teman saya satu angkatan. Saya jadi merasa lebih dekat dengan mereka, walaupun mungkin selama di sana saya tidak berhubungan secara dekat, tapi saya merasa bahwa kami bukanlah lagi hanya orang-orang yang dipertemukan karena kami memiliki kesamaan dalam hal studi, tapi lebih, karena ini adalah scenario dari Allah. Sungguh sebuah pertemuan yang dirancang dengan tujuan yang lebih indah dari itu.
Saya merasa kami seperti sebuah keluarga. Sungguh saya merasa terkesan karena di sana saya mendapati sosok baru yang sebelumnya tidak pernah saya kira mereka memiliki sosok seperti itu. Semua dari kami menunjukkan sifat asli kami yang selama ini mungkin tertutupi. Namun sekali lagi, semua itu bukannya lantas menjadikan kami semakin renggang hubungannya, tapi menjadikan kami lebih erat. Sebagian yang lain merupakan pengingat bagi yang lainnya. Mungkin bisa dijabarkan seperti ini, ketika salah satu dari kami melakukan kesalahan maka yang lainnya tidak akan sungkan untuk mengingatkan. Tak hanya itu, kami menjadi lebih terbuka mengungkapkan perasaan dan harapan kepada sebagian yang lainnya. Sungguh ini lebih berarti dari pada sekadar praktikum lapangan biasa.
Menyelami berbagai makna di atas, mungkin hanya sedikit jika dibandingkan dengan banyaknya pelajaran yang telah kami ambil dari perjalanan ini. Tidak semuanya mampu tertulis dalam bentuk kata-kata. Tapi menurut saya yang terpenting bahwa rasa kebersamaan yang telah tercipta ini benar-benar tersimpan dalam sanubari kami. Bahwa kami adalah bagian dari alam, bahwa kami adalah kecil di hadapan Sang Pemilik Ilmu, bahwa kami tidak sehebat yang kami duga sebelumnya. Menurut pandangan saya selama perjalanan sangat berkesan karena berkat perjalanan itu kami dapat melihat secara langsung perbedaan flora yang ada di hutan tropis yang sangat bervariasi dan interaksi di dalamnya, pada daerah bawah gunung terdapat banyak hutan bambu, sedangkan pada pertengahan dan puncak gunung kebanyakan merupakan jenis dari liana dan epifit, dengan deskripsi permukaan tanah sangat licin dan lembab sehingga terdapat banyak jamur (karena tentang itu yang lebih banyak kami amati)sehingga tidak semua jenis jamur dapat kami ketahui, baik itu dari batang pohon yang sudah tumbang, maupun pada permukaan tanah, begitu pula dengan hewan yang ada di sana di antaranya, kupu-kupu, serangga, burung, dan sebagainya, yang di dominasi oleh serangga, dengan begitu membuat saya sadar bahwa ilmu yang saya miliki selama ini hanya sedikit. Manfaat dari kerja sama pun sangat di rasakan, karena pada saat itulah saya merasa bahwa sesungguhnya kita ini lemah tanpa bantuan orang lain, baik dari teman maupun para asisten. Sampai akhirnya melihat pemandangan yang indah dan belum pernah dilihat sebelumnya di antaranya pengaruh ladang berpindah dan gunung kapur yang jauh tetapi terlihat jelas dengan perjalanan yang sangat melelehkan dan begitu berkesan ternyata tidak ada yang sia-sia, semuanya telah di atur seperti rantai makanan. Pada keberangkatan saya yang kedua banyak sekali perbedaan hutan semakin hancur karena adnya penebangan liar dan ladang berpindah. Ketika awal pendakian saya merasa sedih karena melihat bambu-bambu yang belum di manfaatkan berserakan padahal itu memiliki nilai ekonomis. Pada saat hampir sampai di atas gunung saya lebih sedih lagi melihat penebangan liar, karena hutan tropis itu sangat bermanfaat bagi manusia di daerah sekitar maupun bagi masyarakat yang jauh, di antaranya sebagai pusat penelitian, karena di sana menyimpan banyak rahasia alam yang belum terungkap, di antaranya jenis tumbuhan yang sangat bervariasi dan belum diketahui namanya, begitu pula dengan hewan yang kami temui seperti kaki seribu, tetapi sangat besar dan belum pernah kami lihat sebelumnya, yang mungkin hanya terdapat di wilayah hutan tropis.
Akan kah hutan yang kita punya selama ini hancur begitu saja oleh tangan-tangan mahluk Tuhan yang paling mulia ini ?? Apakah anak cucu kita masih dapat menikmati hutan yang kita punya sekarang ini?? Jawaban misteri ini ada di tangan kita sendiri........

Selengkapnya...

Saturday, March 7, 2009

Menuju Dunia "Fashion"

0 comments

PERKEMBANGAN dan pertumbuhan seni batik tulis di Indonesia, dewasa ini, ditandai dengan munculnya sejumlah seniman/kreator batik kontemporer. Dalam hal mengkreasi karya-karya, mereka tak lagi berpatok pada gambar, pola, dan motif yang sudah ada.

Pada umumnya, gambar, pola, dan motif batik tulis tradisional yang dikreasi oleh para kreatornya itu terkonsep dalam susunan seni mozaik yang indah. Ada pilihan warna tertentu, sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing di mana batik itu diproduksi, baik secara khusus maupun massal. Gambar, pola, dan motif yang dikembangkan oleh para kreator batik tulis tradisional, biasanya mengacu kepada flora dan fauna. Meskipun demikian, ada juga yang mengembangkan berbagai gambar, pola, dan motif awan seperti pada batik cirebonan dengan mega mendungnya. Semua itu digarap dengan sungguh-sungguh dengan asumsi, enak dipandang enak disandang.

Pembuatan batik di Indonesia--sebagaimana diungkapkan Dr. Biranul Anas dalam sebuah esainya berjudul, "Batik Dalam Tataran Modernitas," (Para Rupa, Art Journal, 02 Agustus-September 2008)-- menunjukkan spektrum ungkapan rupa yang amat beraneka ragam. Sebagai kain yang sejak dahulu menjadi salah satu ungkapan budaya yang terpenting dalam kehidupan masyarakat Jawa, terutama dalam konteks adati (busana serta perangkat pendukung upacara.), batik dewasa ini telah merasuk ke dalam berbagai sektor kebutuhan tekstil lainnya.

Oleh karena itu, tak aneh bila kemudian bermunculan kreator batik kotemporer. Dalam berkarya, mereka penuh gairah menciptakan gambar, motif, dan pola dengan warna yang sama sekali berbeda dengan batik tradisional. Walaupun demikian, pelahiran bentuk gambar, pola, dan motif dalam seni batik, dalam segi perupaannya, termasuk ke dalam seni rupa dwimatra. Bentuk-bentuknya terbina dari unsur-unsur garis, titik, dan bidang.

Unsur-unsur tadi, dalam sudut tertentu, bisa menjadi simbol yang bermuatan nilai-nilai filosofis, berkaitan erat dengan kehidupan manusia di muka bumi. Dengan kata lain, nilai-nilai kosmologi itu selalu hadir dan mengalir di dalamnya. Untuk itu, seni batik, baik yang tradisional maupun yang kontemporer, senantiasa hadir dalam kehidupan manusia. Apalagi, fungsinya bukan hanya untuk busana (fashion) semata-mata, melainkan juga bisa juga digunakan sebagai penghias ruangan dalam pengertian seluas-luasnya.

Pesatnya perkembangan batik kontemporer di Indonesia menandakan bahwa para pebatik di negeri ini masih hidup, penuh gairah, dan tidak ingin mati di tempat. Sekontemporer-kontemporernya batik Indonesia, pada titik-titik tertentu, masih mengolah titik, garis, dan ruang dengan pertimbangan-pertimbangan estetika tertentu, yang selama ini dianut oleh para kreatornya.

Berkaitan dengan itu, tak salah kalau Dr. Faruk, dalam sebuah esainya di majalah yang sama mengatakan, fenomena seni rupa muktahir menunjukkan hilangnya batas-batas antara seni rupa murni dari seni rupa terapan dan seni rupa yang reproduktif. Tak sebatas itu, batas-batas antara seni rupa dan seni bukan rupa --entah verbal, musikal-- bahkan seni rabaan dan sentuhan pun menjadi hilang.

Seni rupa kemudian masuk ke dalam apa yang dikenal sebagai seni multimedia. Lebih jauh, ia tak dapat lagi memisahkan diri dari apa yang dianggap bukan seni, segala objek yang remeh-temeh yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari bisa jadi karya seni.


DALAM konteks semacam itulah batik tulis kontemporer hadir. Apa sebab? Bila dilihat dari objek rupanya, kita akan melihat hilangnya batas antara seni rupa murni dan seni rupa terapan. Satu gambar, pola, dan motif batik tulis kontemporer yang tidak dibuat massal, pada sisi tertentu, sama dengan sebuah lukisan, apa pun objeknya.

Salah seorang seniman batik kontemporer dari Kota Bandung yang kini tengah diperbincangkan banyak orang adalah Dr. Tetet Cahyati, Sp.D., M.M. Ia adalah salah seorang anak almarhum pelukis Popo Iskandar. Dalam dunia seni di Bandung, Tetet bukanlah sosok asing.

Sebagai perupa, Tetet dikenal sebagai pelukis abstrak. Di dalam karya, dia senantiasa mengeksplorasi warna, bidang lukisan dengan barik-barik yang tegas, dan sapuan kuas yang penuh gejolak. Ia pun biasa mengubah bentuk natural (alami) ke bentuk-bentuk deformatif dengan teknik distorsi atau stilisasi.

Biranul Anas mengakui, karya-karya batik tulis kontemporer Tetet Cahyati begitu mengejutkan. Salah satunya karena Tetet sudah terbiasa dengan seni rupa, dalam hal ini seni lukis.

Pengamat seni rupa Herry Dim, di dalam esai berjudul "Dari Abstrak Analitik ke Emosi", mengatakah bahwa jika memperhatikan (judul) lukisan-lukisan karya Tetet, akan kita jumpai dua kecenderungan. Pertama, judul-judul yang berorientasi kepada objek-objek keseharian, semisal "Setangkai Bunga Patah", "Bulan Kemarau", dan "Senja di Kota Tua".

Kedua, judul-judul yang cenderung beranjak dari semacam suasana hati, seperti "Di Sudut Lorong Hati", "Cahaya Jiwa", "Rinduku", dan "Persatuan Adalah Kekuatan".

Kedua kecenderungan itu, kata Herry, rupanya menunjukkan acuan (titik berangkat) manakala Tetet melukis. Namun, baik terhadap objek keseharian dan--apalagi-- yang beranjak dari suasana hati: Tetet C. Iskandar tidaklah melukiskan dengan penggambaran seperti apa adanya. Bunga, misalnya, tidak lagi tampak dalam bentuk konkret kesehariannya. Bulan hanya terlacak sebagai lingkaran yang bisa macam-macam warnanya, dan "kota tua" mewujud jadi susunan warna. Kecenderungan seperti yang dilakukan Tetet C. Popo Iskandar, secara teoretis biasanya dikelompokan kepada genre seni lukis abstrak.

Nah, dengan teknik semacam ini, Tetet ingin menampilkan esensi dari setiap renungannya tentang kehidupan, yang tidak boleh menyerah dan kalah dalam berbagai medan kehidupan dalam menghadapi berbagai masalah sepelik apa pun. Berkaitan dengan itu, Tetet menegaskan bahwa nilai seni, apa pun karya seni yang dikreasi oleh para senimannya terletak pada daya kreasinya yang mengagumkan, baik secara estetik maupun filosofis. Batik kontemporer yang dikreasinya ini benar-benar membebaskan diri dari berbagai ragam budaya seni batik yang telah ada, dengan kata lain ungkapan-ungkapan yang dicitrakan Tetet dalam batik tulisnya ini adalah ungkapan-ungkapan manusia kini, yang berpihak pada dinamika zamannya.

Di Bandung, pada kenyataannya, geliat batik kontemporer, sebagaimana dikatakan Prof. Setiawan Sabana, tidak hanya dikerjakan oleh Tetet Cahyati. Lainnya, ada pebatik Prie Ernalia, Komar, dan pebatik Hasanudin (almarhum) yang mengembangkan gaya pekalongan, yang kini diteruskan oleh anaknya. (Soni Farid Maulana/"PR")***

Selengkapnya...


Gabung di sini yaa...!!!

 

CheN_poenya_Blog!!! Copyright 2008 Fashionholic Designed by Ipiet Templates Supported by Tadpole's Notez