TUGAS EKOLOGI LAHAN BASAH
Nama : Cendrawati Pangabdi
NIM : J1C106016
Dosen Mata Kuliah : Drs. Krisdianto, M.Sc
Artikel Tentang Damit dan Pantai Tabanio
Lahan Rawa Gambut, Lingkar Utara Kabupaten Banjar
Kalimantan Selatan mempunyai luas wilayah 12.930 hektar, yang merupakan 2,77 persen dari luas Kabupaten Banjar. Lahan rawa gambut ini cukup berpotensi untuk dimanfaatkan. Menurut hasil observasi saya bersama tim yang lain, lahan rawa gambut di sini memiliki karakteristik tanah, yaitu tanahnya berwarna hitam dan berbau asam (bau gambut). Kami mengambil dua sampel untuk tanah, yaitu tanah pada bagian yang letaknya agak di pinggir atau dekat dengan tanah urugan dan tanah yang letaknya di tengah-tengah rawa. Setelah diperhatikan kedua sampel tersebut, warnanya berbeda. Tanah yang letaknya ditengah rawa warnanya lebih hitam daripada tanah yang letaknya di pinggir atau dekat tanah urugan. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh akar tanaman Kayu Galam serta Purun Tikus yang tumbuh subur di tengah rawa serta proses pembusukan yang tidak sempurna itu terjadi di bawah akar tanaman. Sehingga apabila dibandingkan dengan tanah yang letaknya dipinggir tidak terjadi pembusukan serta tanah tersebut telah terkontaminasi keadaan didekatnya. Sebagian besar lahan memang sudah diurug tanah yang digunakan untuk lahan pemukiman yang dapat mendatangkan keuntungan secara ekonomi bagi pengembangnya. Selain itu, rencananya akan dibangun saluran irigasi PDAM di daerah tersebut, yang akan menyuplai air bersih di daerah sekitarnya.
Selanjutnya untuk pengukuran suhu di dapat suhu yang berbeda. Di bagian yang dangkal, suhunya 28 Celcius. Sedangkan di bagian yang dalam, suhunya 29Celcius. Dapat kami simpulkan bahwa di bagian dalam rawa tersebut suhunya lebih tinggi dibandingkan bagian dangkal. Hal ini terjadi karena ada suatu proses peristiwa atau reaksi baik itu secara kimia atau biologi yang terjadi di kedua bagian tersebut yang menyebabkan perbedaan suhu.
Untuk mengetahui tingkat keasaman(pH) dan kelembaban tanah digunakan alat yang dinamakan Soil Tester, yaitu alat yang berfungsi untuk mengukur tingkat keasaman (pH) dan kelembaban tanah. Tingkat keasaman pada tanah gambut di sini adalah 5,5 dan kelembaban tanahnya 50%.
Lahan di rawa gambut sepertinya sudah dilakukan pengerukan. Hal ini mununjukkan bahwa di kawasan rawa ini akan didirikan bangunan. Munurut saya hal demikian tidak memungkinkan untuk dilakukan sebab kondisi tanah yang memprihatinkan apalagi untuk bangunan. Dengan didirikan bangunan maka akan mengurangi daerah resapan air.
RAWA BUATAN (BENDUNGAN) DAMIT
Damit adalah sebuah desa yang terletak di salah satu rangkaian pegunungan Meratus dan wilyahnya terletak di dataran tinggi yang hampir seluruhnya tertutup padang ilalang dan hutan-hutan kecil. Damit merupakan salah satu daerah tangkapan air yang sangat penting yang terletak dikawasan selatan pulau Kalimantan. Kawasan ini merupakan contoh dimana hutan telah rusak dan intervensi manusia harus dilakukan untuk mendapatkan air. Di rawa buatan atau bendungan inilah beberapa anak sungai kecil dan air hujan ditampung untuk keperluan perikanan dan pertanian. Namun demikian flora dan fauna di kawasan ini menunjukkan kemungkinan adanya degradasi lingkungan dalam skala yang luas di sana. Selain itu kawasan ini juga menjadi mendapatkan tekanan dari berbagai aktivitas kehidupajn manusia. Masyarakat hidup dari bertani, membudidayakan ikan, berkebun dan lain-lain aktivitasnya. Sehingga mereka dapat berperan dalam kegiatan ekonomi, hukum, pemerintahan, dan kemasyarakatan lainnya. Banyak sekali indikator yang dapat digunakan untuk menilai peran masyarakat yang hidup di kawasan rawa ini.
Apabila kondisi vegetasi hutan yang mulai jarang di daerah Damit, maka air hujan yang mengguyur gunung itu tak dapat diserap oleh vegetasi hutannya, akibatnya air tersebut turun ke daerah rendah. Selain itu, daerah resapan merupakan komponen penting dalam sistem tata air di daerah itu. Tata air dapat diartikan sebagai suatu kondisi alami yang menggambarkan kejadian hidrologi dari sejak penerimaan air hujan, penyimpanan, pengisian sumber-sumber air, luaran air dan kehilangan air yang terjadi di suatu wilayah/daerah. Proses tersebut seharusnya berjalan secara normal dan seimbang. Daerah Damit sebagian besar digunakan untuk areal pertanian dan perkebunan karet.
Dibuatnya daerah tangkapan air yang di daerah ini dikarenakan daerah ini sangat kurang akan keberadaan air. Yang mana air sangat diperlukan untuk pengairan sawah serta kebun petani, belum lagi untuk keperluan lainnya. Dari bendungan inilah petani bergantung. Akibat hujan yang turun akhirnya tertampunglah air di bendungan ini. Hutan-hutan kecil yang berada di sekitar kawasan ini juga ikut berperan atas ketersediaan air bagi bendungan tersebut. Di mana melalui proses evaporasi serta evapotranspirasi dari siklus hidrologi tumbuhan-tumbuhan mampu menyimpan air dalam jumlah yang banyak oleh akar sehingga mengairi bendungan di kawasan ini.
PANTAI TABANIO
Tabanio hanyalah desa kecil di Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut. Di peta kabupaten, lokasi desa di tepi Laut Jawa itu nyaris tak tampak. Dari kota kabupaten, Pelaihari, Tabanio bisa dicapai dengan menggunakan berbagai jenis kendaraan melintasi jalan beraspal sepanjang 23 km atau 83 km dari Kota Banjarmasin.
Dengan luas 62 kilometer persegi, Desa Tabanio saat ini dihuni sekitar 850 keluarga, 70 persen di antaranya nelayan tradisional. Mereka mulai melaut sejak 20-an tahun silam. Dari sisi ekonomi, nelayan tradisional Tabanio boleh dibilang hidup berkecukupan. Indikasinya, semua keluarga nelayan di desa tersebut memiliki kapal sendiri untuk sarana melaut. Di Tabanio saat ini terdapat dua TK (taman kanak-kanak), tiga gedung SD (sekolah dasar), dua Madrasah Tsanawiyah, dan satu SLTP (sekolah lanjutan tingkat pertama) Negeri. Dari 210 anak usia sekolah yang ada, 197 orang di antaranya tercatat bersekolah di SD.
Pantai Tabanio, Kecamatan Takisung, Tanah Laut, yang merupakan kawasan pantai, hutan mangrove dan persawahan pasang surut merupakan rona alam yang membentang dari garis pantai menuju daratan. Saya sangat prihatin sekali dengan kondisi di Pantai Tabanio itu. Keadaan di Pesisir pantai kurang begitu kondusif dikarenakan banyaknya terdapat ranting-ranting kayu yang berserakan dan sampah-sampah. Hal ini sangat menyedihkan, mengingat potensi kawasan pesisir pantai yang sebenarnya sebagai objek wisata menjadi tidak terawat. Selain itu, kini semakin gersang menyusul musnahnya pepohonan alam di pantai setempat akibat gerusan abrasi dimana terjadi fluktasi air setiap tahunnya. Bertumbangannya pepohonan di Pantai Tabanio menunjukkan betapa sporadisnya abrasi. Hal ini dapat dilihat dengan jelas setiap tahun hampir 5 depa hilangnya bagian tepi dari pantai ini, yang awalnya ada di bibir pantai kini meluas.
Gambar Pantai Tabanio
Dengan kondisi Pantai Tabanio sebaiknya penduduk dan pemerintah melakukan upaya untuk meminimalisir hal ini. Saat ini langkah pertama yang lebih tepat dilakukan adalah mengamankan pantai setempat melalui pembangunan bronjong. Jika bangunan pemecah gelombang ini telah dibangun diyakini abrasi bisa diatasi atau setidaknya diperkecil dampak gerusannya. Selain itu, dengan melakukan penghijauan dan penanaman hutan bakau, harus dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan kondisi alam. Penghijauan di Pantai Tabanio bisa dilaksanakan jika pantai setempat telah dilengkapi bronjong (bangunan pemecah gelombang), walaupun sebenarnya cara ini kurang efektif karena lama dalam hal pertumbuhan hutan bakau tersebut. Tetapi dengan melakukan penanaman hutan bakau itu setidaknya dapat mengurangi terjadinya abrasi.
Gambar Keadaan Pantai Akibat Abrasi
Di daerah Tabanio yang merupakan daerah pantai, disana terdapat adanya sumber salinitas karena salinitas merupakan larutan garam yang terkandung dalam air/fluida yang dapat mempengaruhi kualitas air. Air dengan larutan garam yang tinggi akan tidak baik untuk sistem irigasi ataupun kebutuhan air bersih masyarakat. Namun, untuk sejumlah garam didalam air ada angka-angka yang masih dapat dijalan untuk berbagai macam keperluan. Persoalan salinitasi itu akan timbul jika jumlah garam yang ada melebihi dari yang diijinkan tanpa ada usaha untuk mencegah akumulasi garam tersebut. Dimana salinitas di daerah Tabanio tersebut kurang lebih mencapai 30%. Efek salinitas berpengaruh terhadap kesehatan manusia, tanaman dan tanah. Penurunan kualitas dan potabilitas air yang berdampak pada kesehatan dan aktifitas manusia. Untuk debit air Pantai Tabanio menyusut karena cuaca yang panas terus-menerus.



